“Kenapa gak pakai nama asli kayak Tan Jung Ho atau apalah” sahut seorang murid setelah Edwin memperkenalkan diri yang seketika disambut gelak tawa.
Penggalan dialog Pengepungan di Bukit Duri (2025) mengisyaratkan betapa kuatnya rasisme telah tertanam di masyarakat.
Film arahan sutradara Joko Anwar ini memang mengangkat isu rasialisme dan terinspirasi kerusuhan Mei 1998 yang menargetkan orang-orang Tionghoa-Indonesia. Di media sosial sendiri, film ini digadang-gadang terinspirasi peristiwa Mei 1998. Walau, setelah beberapa hari lalu menonton filmnya saya bisa menyimpulkan bahwa kerusuhan anti-Tionghoa ternyata bukan bagian utama dari film ini. Bukan berarti bahwa isu rasisme di Pengepungan di Bukit Duri adalah tempelan semata, justru isu rasisme memainkan peran penting dalam alur film hanya saja sangat subtle, terutama setelah sepertiga film.
Memang bagi mereka yang sejak awal memiliki ekspektasi bahwa film ini akan bercerita soal kerusuhan anti-Tionghoa jelas akan kecewa karena film ini tidak bercerita tentang kerusuhan anti-Tionghoa, apalagi meniru plek-ketiplek apa yang terjadi pada Mei 1998 silam. Alih-alih film ini mengikuti Edwin (Morgan Oey), keturunan Cina yang menjadi penyintas kekerasan anti-Tionghoa saat dirinya masih duduk di bangku sekolah. Malang, nasib mujur tidak dialami kakaknya Silvi (Lia Lukman) yang saat itu justru menjadi korban pemerkosaan. Edwin yang saat itu masih bocah tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolong kakaknya. Sudah jatuh tertimpa tangga, saat dirinya sampai di rumah untuk menceritakan apa yang terjadi pada kakaknya, api telah melalap rumah beserta kedua orangtuanya yang terjebak di dalam.
17 tahun kemudian Edwin bekerja sebagai guru honorer. Setelah berganti-ganti mengajar di 5 sekolah berbeda, ia memutuskan untuk mendaftar sebagai guru (honorer) di SMA Duri yang kebetulan sedang kekurangan guru karena banyak guru yang keluar karena tidak betah mengajar. Banyaknya guru yang berhenti mengajar di SMA Duri sendiri bukan tanpa alasan, SMA Duri bukanlah sekolah biasa melainkan sekolah buangan anak-anak bermasalah. Anak-anak remaja yang dilabeli sebagai nakal, tidak punya masa depan, dan sampah masyarakat.
Baru hari pertama mengajar, Edwin sudah dihadapkan dengan Jefri, siswa berandal dan ketua geng SMA Duri. Jefri dan siswa yang masih satu geng dengannya langsung membuat rusuh kelas. “Main lempar aja kayak berak” ujar Jefri.
“Kamu kalau dengan orang tua kamu juga ngomong kayak gitu? Dan kamu heran kenapa orang tua kamu benci sama kamu?” tegur Edwin pada Jefri di depan siswa yang lain. Sebagai orang yang pernah mencicipi bangku sekolah, saya bisa mengklaim apa yang dikatakan Edwin tersebut adalah hal yang biasa digunakan guru untuk menegur siswa yang dianggap bandel. Namun siapa sangka bahwa perkataan Edwin yang terdengar biasa saja itu ternyata bisa melukai perasaan Jefri. Di sini kita harus mengapresiasi kemampuan akting Omara Esteghlal dalam memerankan karakter Jefri. Mudah bagi kita untuk tahu bahwa Jefri sakit hati dengan perkataan Edwin hanya dengan melihat ekspresi wajahnya.
Namun film tidak memberikan petunjuk sedikit pun pada penonton tentang latar belakang keluarganya dan masalah apa yang dimiliki seorang siswa berandal seperti Jefri. Asal-usul Jefri baru terungkap pada menit akhir film di mana Jefri sendiri mengaku sebagai Cina dan punya banyak ayah. Tampaknya Joko Anwar sengaja menyimpan latar belakang Jefri untuk digunakan sebagai plot twist di akhir film yang sebenarnya cukup mudah ditebak—saya sendiri sudah menyadari kemungkinan ini sejak pertengahan film.
Namun justru itulah yang membuat saya agak kecewa. Bukan soal plot twist yang mudah ditebak tapi karena Pengepungan di Bukit Duri ini justru menggadaikan waktu yang bisa digunakan untuk menggali lebih dalam karakter Jefri hanya untuk adegan-adegan gelud dan aksi negosiasi yang meh banget. Masih terkait dengan hal ini, cara Edwin menangani siswa berandal seperti Jefri juga jadi tanda tanya. Sebagai guru, sebenarnya Edwin sudah sangat bagus dalam mengelola kelas notabene diisi anak-anak bermasalah. Mata pelajaran seni yang diampunya misalnya, berjalan dengan sukses dengan sedikit gangguan yang semua berasal dari Jefri. Namun kenapa Edwin justru gagal untuk menangani Jefri? Bagi kalian yang berpikir bahwa Jefri adalah sampah masyarakat yang tidak layak ditolong atau sudah tidak bisa ditolong, maka cara pandang kalian sama persis seperti cara pemerintah kita melihat rakyatnya. Jika kamu pikir mencabut nyawa pengedar narkoba adalah hal yang benar, maka saya tidak heran jika kamu juga berpikir Jefri pantas mati.
Otoritas dan ketegasan memang kunci dalam mengkondisikan sebuah kelas. Namun, hal yang sama tidak bisa serta merta bisa diterapkan pada seorang siswa. Kalaupun berhasil, itu tidak akan membawa perubahan berarti pada siswa tersebut yang bisa bertahan dalam jangka panjang. Selain itu ada alasan kenapa masyarakat modern tidak lagi menggunakan kekerasan atau otoritarian berlebih, menurut Todd May dalam tulisannya berjudul Foucault’s conception of freedom menyebut penyiksaan dan perlakuan atau hukuman lain yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat manusia merupakan bentuk hukuman yang tidak efektif untuk mendisiplinkan manusia. Ironisnya, sejak awal bentuk hukuman inilah yang Edwin pilih untuk mendisiplinkan Jefri.
Selain yang saya contohkan di awal tulisan ini, saat dirinya mengajar kelas Seni—misalnya—ia dengan sengaja mempermalukan Jefri sebagai bentuk hukuman. Jika alasannya Edwin bukan orang yang penyabar, dia tidak sendiri di sekolah itu, ada Bu Diana (Hana Pitrashata Malasan) yang merupakan guru konseling dan dapat dimintai bantuan untuk mengurus Jefri, tapi Edwin—saat Jefri ketahuan terlibat perkelahian di luar sekolah—justru mengabaikan saran Diana untuk tidak mengatakan yang sebenarnya bahwa Jefri menyerang dirinya di luar sekolah. Apakah Jefri ditangkap polisi? Jauh lebih buruk, dia dikeluarkan dari sekolah tanpa diberikan surat rekomendasi, dan tanpa surat itu nyaris mustahil bagi Jefri untuk diterima di sekolah lain. Pada titik ini, saya sudah tidak habis pikir. Apakah dia tidak paham konsekuensi atas tindakannya? Itu tak ubahnya melepas macan dari kandang. Diana, secercah harapan yang tersisa, justru berubah haluan mendukung tindakan Edwin melaporkan Jefri ke kepala sekolah yang berujung Jefri terkena dropout setelah semua itu terjadi. Memang benar kata orang-orang, jatuh cinta itu membutakan.
Sebelum kalian berpikir saya mendukung Jefri menyerang Edwin, saya melihat tindakan Jefri itu sebagai tindakan kriminal. Kalaupun Jefri harus dikeluarkan dari sekolah, setidaknya laporkan ke polisi sehingga bisa diproses lebih lanjut dengan Jefri tetap mendapatkan haknya, terutama hak atas pendidikan. Namun, dengan segala kecerobohan Edwin, saya mencoba berbaik sangka dan mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Mungkin dia tidak percaya dengan polisi? Mungkin dia—dari pengalaman sebagai wong cino—tak lagi dapat percaya pada institusi penegak hukum di Indonesia? Atau malah dia tidak lagi percaya pada negara? Karena bagaimanapun juga kemalangan yang dia, kakaknya, dan keponakannya alami bermuara pada ketidakbecusan negara ini.