Menginjak semester 3, terdapat mata kuliah wajib yaitu Kuliah Kerja Lapangan (tidak untuk disamakan dengan Kuliah Kerja Nyata). Seperti namanya, mahasiswa tidak duduk di kelas atau di depan gawai. Setelah dua tahun sebelumnya KKL dilakukan di lokasi tempat tinggal mahasiswa karena pandemi Covid-19., akhirnya KKL dapat dilakukan di lokasi yang lebih jauh. Pada 16 - 20 Januari, saya mengunjungi masyarakat adat Badui dalam yang tinggal di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten dan beberapa lokasi di kota Bandung. Pada artikel ini, saya akan sedikit menceritakan cerita perjalanan saya saat itu. Agar tidak berbelit-belit, saya tidak akan menceritakan semuanya secara detail, saya akan lebih berfokus pada pengalaman saya ke Badui dalam dan tinggal di sana satu malam.

16 Januari: Dari Stasiun Klaten

Foto stasiun Klaten, terlihat dalam foto sebuah mesin isi ulang Mandiri emoney dan loket penjualan tiket.

Penampakan Stasiun Klaten. Diambil oleh penulis pada 16 Januari 2023.

Pada pukul 11.00 WIB saya berangkat dari Stasiun Klaten ke Stasiun Lempuyangan menggunakan KRL, kemudian naik Transjogja jurusan 2A menuju rektorat Universitas Negeri Yogyakarta, tempat keberangkatan KKL. Sekitar pukul 12.00 WIB saya tiba di depan rektorat. Setelah pengarahan singkat dari panitia, bus diberangkatkan dari rektorat sekitar pukul 13.00. Selama perjalanan itu, saya mengalami mabuk perjalanan. Saya memang sering mengalami mabuk perjalanan selama di perjalanan bus jarak jauh. Perjalanan melalui tol Transjawa, tol tersebut cukup mempersingkat waktu perjalanan dari Jogja ke Banten.

17 Januari: Tiba di Banten

Saya tidak langsung menuju wilayah Badui dalam karena terletak di pedalaman Kabupaten Lebak sehingga tidak bisa dijangkau melalui bus. Kami terlebih dahulu transit di Terminal Ciboleger sekitar pukul 4 pagi. Di terminal tersebut, rombongan menyempatkan diri untuk bersih-bersih badan dan mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan ke Cijahe menggunakan shuttle, mengingat nanti harus berjalan kaki di jalan setapak yang menanjak. Ada yang mandi di rumah-rumah warga (dengan membayar tentunya), ada juga yang memilih numpang mandi di masjid atau mushola demi menghemat ongkos sekaligus salat subuh.

Usai mandi dan sarapan, saya menaiki shuttle yang berupa minibus dan berangka dari Terminal Ciboleger menuju Cijahe sekitar pukul 8 pagi. Saya sempat berpikir bahwa perjalanan akan mulus, tapi ternyata ekspektasi saya agak keliru. Kami melewati jalan berliku dan menanjanjak yang aspalnya rusak. Minibus yang kami tumpangi bergoncang ke sana kemari. Seketika saya dilanda perasaan takut dan mual, takut-takut minibus akan terperosok atau terbalik. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di Cijahe. Tiba di Cijahe, rombongan dikumpulkan untuk diberikan pengarahan, termasuk terkait larangan untuk mengambil foto maupun video di Badui dalam. Setelah pengarahan singkat oleh panitia, bagian paling melelahkan pun akhirnya dimulai. Kami menyusuri jalan setapak yang dikelilingi area persawahan. Tak lama kemudian, jalan setapak yang saya dan rombongan lalui berubah menjadi jalan setapak yang menanjak, tepat di titik inilah, perjalanan melelahkan itu dimulai. Sebenarnya, kami cukup beruntung karena saat itu cuaca sedang cerah berawan, mengingat kondisi jalan setapak yang kami lalui, guyuran air hujan akan membuat jalan setapak yang kami lalui menjadi kubangan lumpur yang licin. Batu pijakan yang ada di sepanjang jalan cukup membantu, terutama saat harus menanjak.

Foto penampakan jalan setapak menuju badui dalam, terlihat batu-batu pijakan disepanjang jalan.

Jalan setapak menuju Badui dalam.

Beberapa kali saya melihat anak-anak Badui membawa tas-tas ransel beberapa mahasiswa, mereka menawarkan jasa bagi mahasiswa yang tidak kuat lagi berjalan dengan menggendong tas, mereka tidak mematok tarif, tapi mereka biasanya dibayar 50.000 atau 100.000. Saya? Beruntung karena teman saya dengan ikhlas membawakan tas saya. Jujur saja saya rasa kuat untuk berjalan dengan menggendong tas dipunggung, saya hanya mual waktu itu karena digoncang saat naik shuttle ke Cijahe, bukan berarti saya tidak kuat untuk berjalan, bukan berarti saya tidak kuat untuk jalan menuju Badui dalam. Tapi dia terlihat ikhlas jadi saya mau-mau saja.

Tiba di Badui

Setelah berjalan selama dua jam, dengan beberapa kali berhenti untuk istirahat, kami akhirnya tiba di Badui dalam. Perjalanan melelahkan ini akhirnya (belum) berkakhir. Kami dikumpulkan dalam beberapa kelompok untuk diarahkan ke rumah masing-masing yang telah dibagi sebelumnya. Rumah itu berbentuk rumah panggung yang mana tidak menyentuh tanah secara langsung. Rumah terbuat dari anyaman bambu dengan atap yang terbuat dari daun pohon kelapa. Sayangnya, kami tidak diperbolehkan untuk mengambil foto sehingga saya tidak bisa menunjukkan foto rumah adat Badui dalam.

Suku Baduy, suku asli masyarakat Banten terletak di dalam pegunungan dan hidup di dalam rumah adat Sulah Nyanda yang terbuat dari kayu dan bambu. Pembuatan rumah adat suku Baduy ini dilakukan dengan cara gotong royong menggunakan bahan baku yang berasal dari alam. Bahan yang digunakan untuk membangun pondasi terbuat dari kayu, sedangkan pada bagian dasar pondasi menggunakan batu kali atau umpak sebagai landasannya.

Foto rumah adat Badui luar. Kurang lebih rumah adat Badui dalam mirip seperti ini. Foto oleh Kuncoro Widyo Rumpoko, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Rombongan sebelumnya telah dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok menempati (atau lebih tepatnya numpang) di salah satu rumah yang ditinggali sebuah keluarga di Badui. Saya sendiri berada di kelompok 10 dan menempati rumah bapak Agus dan keluarganya selama di Badui. Beberapa ada yang langsung pergi ke sungai untuk mandi berkedok “renang”, mengingat di sana tidak boleh mandi menggunakan sabun. Rumah-rumah di sana tidak ada kamar mandi sehingga untuk mandi atau buang hajat ada di sungai. Tidak sembarang tempat di sungai boleh digunakan untuk mandi atau buang hajat. Tentu ada yang memilih untuk tidak mandi saat di Badui dan memilih mandi setelah sampai di hotel, termasuk saya. Kemudian kami makan siang dengan nasi dan sayur sop yang telah disediakan.

Menjelang sore, kami berkumpul di sebuah lapangan terbuka untuk bertemu dengan jaro, sebutan untuk tokoh adat di Badui dalam. Di pertemuan ini, kami diberi kesempatan untuk mengajukan beberapa pertanyaan yang langsung dijawab oleh para jaro. Mayoritas pertanyaan yang diajukan seputar dengan upacara-upacara adat dan sistem kehidupan masyarakat adat Badui seperti pernikahan, pemakaman, dan sistem penanggalan. Dari pertemuanku, kami tahu bahwa pernikahan dilakukan melalui perjodohan, tapi jangan membayangkan kisah-kisah perjodohan seperti di sinetron-sinetron atau cerita-cerita di Wattpad. Perjodohan di sana bukanlah perjodohan paksa, mereka diberi kesempatan untuk menolak perjodohan dan itu bukanlah masalah besar. Mereka juga memperbolehkan menikah dengan orang dari Badui luar atau bahkan di luar Badui. Namun, memutuskan untuk menikah dengan orang yang bukan dari Badui dalam dan pergi keluar dari Badui dalam karena ikut pasangan akan membuat orang tersebut bukan lagi bagian dari masyarakat adat Badui dalam. Itu bukan berarti tidak boleh lagi datang ke Badui dalam. Tidak semua bisa memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada jaro karena waktu yang terbatas dan hari yang menjelang malam.

Pesta durian

Kami sedang menghabiskan menghabiskan sore hari dengan mengobrol di depan rumah ketika tiba-tiba seorang bapak-bapak datang dan menawarkan dua buah durian. Salah satu teman saya kemudian membelinya dengan seharga Rp. 100.000 setelah terjadi aksi tawar menawar yang untungnya tidak terlalu alot. Durian pertama dibuka dengan parang yang dipinjam dari Pak Agus dan mulai mencicipinya. Saya tidak ikut mencicipinya, yang sebenarnya saya sesalkan karena saya tidak berhasil menemukan raut kecewa di wajah mereka saat mencicip durian Badui itu. Durian kedua ternyata masih mentah, tampaknya keberuntungan tidak memihak mereka kali ini. Beruntungnya, kekecewaan itu tidak berlangsung lama karena bapak yang menawarkan durian tadi bersedia menggantinya dengan durian lain. Seketika raut bahagia kembali muncul di wajah mereka. Stidaknya mereka tidak jadi menelan pil pahit.

Tiba-tiba hilang

Menjelang malam, kami dipanggil oleh Pak Agus untuk makan malam. Lauk kali ini adalah ikan dan tempe goreng. Setelah makan, kami melanjutkan untuk mengobrol di depan rumah hingga matahari tak lagi menampakkan wujudnya. Kami mengobrol ditemani suasana gelap dan suara-suara hewan malam tanpa penerangan, kami seperti mengobrol dengan suara tanpa rupa saking gelapnya. Di tengah gelapnya malam, tiba-tiba salah satu teman satu rumah saya menanyakan keberadaan Syafiq, salah satu panitia, yang tiba-tiba lenyap setelah pertemuan dengan jaro. Belakangan, diketahui jika dia sedang membahas pembagian kelompok dan tema untuk penugasan KKL bersama dosen. Saya tidak mengetahui jam berapa waktu itu karena telepon selular saya mati kehabisan daya. Tapi menjelang larut malam, semua kembali ke rumah masing-masing. Saya memutuskan untuk langsung tidur mengingat kami sudah harus kembali pukul 6 pagi. Saya merebahkan diri dan mencoba tidur ditemani suara teman-teman serumah yang sedang membicarakan masalah Himpunan Mahasiswa (HIMA). Maklum, mayoritas teman serumah saya saat itu adalah anak organisasi.

18 Januari: Selamat tinggal Badui

Sekitar pukul 5 pagi Syafiq membangunkanku dan teman-teman yang lain. Hawa dingin seketika menyeruak, saya segera mengambil dan memakai jaket untuk menghalau dingin. Kami kemudian sarapan dengan nasi goreng yang menurutku enak (atau saya saja yang kelaparan). Rasanya saya ingin tambah lagi, tetapi perasaan tidak enak membuat saya mengurungkan niat. Setelah sarapan, kami langsung membereskan barang-barang untuk memastikan tidak ada yang tertinggal dan berpamitan dengan Pak Agus dan keluarganya. Tidak ada waktu lagi untuk mandi karena kami harus segera kembali ke Terminal Ciboleger agar bisa sampai ke hotel tepat waktu.

Kami kembali melakukan perjalanan jalan kaki untuk kembali ke titik poin Cijahe sekitar pukul 6 pagi. Hujan pada siang hari membuat jalan yang kami lalui jauh lebih ekstrem dari saat kami berangkat. Kami harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset atau kaki terjerembab di lumpur. Tubuh yang menggigil kedinginan digantikan dengan keringat yang membanjiri tubuh . Saat berjalan saya sempat terpeleset dan jatuh dengan bokong telebih dahulu mencium tanah. Waktu tempuh kali ini lebih singkat daripada saat berangkat, sepertinya saat itu kami melalui rute lain yang lebih singkat. Apakah perjalanan kali ini melelahkan? Tentu, tapi semua rasa lelah itu terbayar karena rute pulang menawarkan pemandangan hutan dan pegunungan yang indah dan asri. Hal itu tidak dilewatkan dengan menyempatkan untuk berfoto bersama setelah keluar dari wilayah Badui dalam. Sayang sekali saya tidak bisa mengabadikan pemandangan menakjubkan itu karena telepon seluler saya mati dan tidak ada aliran listrik di Badui Dalam.

Tiba di Bandung

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, kami akhirnya tiba di hotel tujuan tempat kami makan malam dan menginap. Hotel yang kami tempati bernama Hyper Inn, sebuah hotel bintang dua di pusat kota Bandung. Letak hotel sangat strategis. Saya kebetulan menempati salah satu kamar di lantai 6. Setelah menempatkan tas dan koper ke dalam kamar, saya dan rombongan segera keluar ke lantai dasar untuk makan malam. Terdapat sedikit pengumuman dari dosen setelah makan malam. Setelah makan dan mendengar pengumuman, mahasiswa kembali ke kamar masing-masing untuk mandi. Setelah mandi mahasiswa bebas pergi jalan-jalan. Saya memutuskan untuk rebahan di kamar saja. Sebenarnya saya berencana bertemu dengan seorang teman yang tinggal di Cimahi, tetapi batal karena satu dan lain hal. Ditengah kebosanan, saya mencoba menghidupkan TV, tapi hanya semut yang muncul di layar. Saya menghubungi tour leader dari EO dan diminta untuk menghubungi resepsionis. Saya mengikuti saran tersebut dan menghubungi resepsionis lewat pesawat telepon yang tersedia di kamar hotel. Saya mendapat respons yang bagus, tetapi setelah saya tunggu, tidak ada staff yang datang. Sinyal WiFi dari hotel juga sangat jelek sehingga tidak bisa digunakan untuk berinternet, saya terpaksa menggunakan data seluler.

Telepon misterius

Saya sedang asyik mengobrol dengan teman di kamar ketika terdengar suara dering yang berasal telepon hotel, sebuah tanda terdapat panggilan telepon masuk. Teman saya mencoba mengangkat telepon. Ternyata, itu adalah panggilan dari staff hotel yang mengkonfirmasi pesanan makanan dari kamar saya, padahal saya maupun teman saya tidak pernah memesan apapun. Malangnya, teman saya yang mengangkat telepon itu justru mengiyakan pesanan makanan itu. Saya hanya bisa pasrah. Anehnya, pesanan makanan itu tidak pernah datang. Saya tentu tidak mempermasalahkannya karena saya tidak pernah memesan makanan dari hotel.

19 Januari: Kunjungan Saritem dan Gang Luna

Pagi hari, setelah mandi dan sarapan di hotel. Kami melanjutkan untuk menuju ke ruang pertemuan di hotel yang tidak jauh dari hotel tempat kami menginap untuk menghadiri acara pertemuan dan sesi tanya jawab dengan pihak Kesbangpol. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan dari pertemuan ini. Kalau boleh jujur, pertemuan ini membosankan. Setelah makan siang, acara dilanjutkan dengan pertemuan dan tanya jawab dengan perwakilan dari Saritem, sebuah lokalisasi di kota Bandung. Sejujurnya agak kecewa karena saya pikir akan berkunjung langsung ke Saritem. Saat sesi tanya jawab dengan perwakilan dari Saritem, suasana seketika berubah canggung. Tidak mengherankan karena mayoritas pertanyaan yang diajukan tidak jauh-jauh dari seksualitas, sesuatu yang masih dianggap tabu di Indonesia. Beberapa pertanyaan, mengundang tawa dari mahasiswa lain. Walaupun saya sendiri tidak ikut tertawa. Entahlah, saya merasa tidak ada yang lucu dari pertanyaan itu.

Gedung pertemuan di sebuah hotel, terdapat layar proyektor.

Pertemuan dan sesi tanya jawab dengan perwakilan dari Kesbangpol.

Setelah bertemu dengan perwakilan dari Saritem, kami melanjutkan perjalanan menuju Kampung Toleransi Gang Luna. Dari namanya, kamu mungkin sudah bisa menebaknya. Di sepanjang jalan selebar kurang lebih 4 meter, berdiri rumah ibadah dari berbagai agama. Saya menemukan Masjid An-Nashir (JAI), Gereja Katolik St. Mikael, Wihara Sinar Mulia, Vihara Dharma Ramsi, Vihara Tanda Bhakti, dan Kelenteng Xie Tien Gong. Kemudian terdapat sesi pertemuan dan tanya jawab dengan pengurus RT setempat di kantor RT/RW. Sayang ruang pertemuan kecil sehingga tidak dapat menampung semua rombongan. Nasib sepertinya tidak sedang memihak saya, saya tidak dapat mengikuti pertemuan karena tidak mendapat tempat. Sebagai pendukung pluralisme agama, tidak dapat mengikuti pertemuan dan mengajukan pertanyaan kepada pengurus RT terkait toleransi beragama sangat mengecewakan. Banyak pertanyaan yang ingin saya sampaikan, terutama terkait dengan gerakan agama baru atau new religion movement. Setelah pertemuan dan sesi tanya jawab dengan pengurus, kami menyempatkan melakukan foto bersama sebelum melanjutkan perjalanan ke Lembang.

Sebuah vihara bernama Vihara Ratnapani.

Vihara Ratnapani, salah satu rumah ibadah di Kampung Toleransi Gang Luna.

Melepas penat di Lembang

Saat saya memberitahu teman saya yang tinggal di Bandung bahwa saya akan mengunjungi destinasi wisata Farmhouse di Lembang, teman saya itu seketika bilang kalau tempat yang akan saya kunjungi bagus. Saya tidak terlalu paham apa maksud dari perkataan teman saya itu, sampai saya menemukan bangunan yang memiliki gaya arsitektur khas Eropa. Saya seketika sadar bahwa maksud teman saya adalah bahwa tempat yang saya kunjungi saat ini adalah tempat yang instagramable. Saya mendapati salah beberapa mahasiswa mencoba berfoto dengan hewan-hewan eksotis.

Sebuah bangunan restoran bergaya Eropa di Farmhouse Lembang.

Farmhouse Lembang sebenarnya menjual tempat-tempat yang instagramable.

Sekitar pukul 19.00 WIB, bus tiba di Rumah Makan Grafika Cikole yang masih berada di Lembang, saya dan rombongan turun dari bus untuk makan malam dan seketika hawa dingin menusuk kulit. Beruntung, saya masih memakai jaket saya. Saya heran karena waktu menunjukkan masih pukul tujuh malam tapi terasa sangat dingin. Bahkan gelas kaca di rumah makan itu terasa seperti baru keluar dari lemari pendingin. Saya mengeluarkan telepon seluler dari saku, membuka aplikasi Google: 18°C. GILA.


Artikel ini adalah salah satu bagian dari Kuliah Kerja Lapangan 2023 Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Hukum, dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Yogyakarta. Kirimkan komentar melalui surel ke [email protected].

Menemukan salah tik atau kekeliruan? Silakan kirimkan koreksi Anda melalui GitHub dengan membuat Pull Request atau kirim melalui surel di [email protected].